Irmawati Daeng So'na, punya jejak panjang sebagai perempuan aktivis. Perempuan asal Sanrobone, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, itu bertekad mengawal proses demokrasi agar kian berkualitas dengan ikut seleksi menjadi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Takalar, periode 2023-2028.


Irma, begitu sapaan akrabnya, mengawali karier sebagai penyelenggara Pemilihan Umum (pemilu), sejak tahun 2004. Ketika itu, dia merupakan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Dusun Bonto Panno Desa Paddinging. Selanjutnya menjadi Ketua KPPS pada pemilu pada pemilu 2009. Perempuan kelahiran Bonto Panno, 1985 pernah pula menjadi pemantau independen di Koalisi Perempuan Indonesia pada tahun 2014.


Ketika berlangsung pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Takalar, tahun 2017, dia terlibat sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di Kecamatan Sanrobone. Ia menduduki posisi sebagai anggota pada Divisi Teknis. Sukses menyelesaikan tahapan Pemilihan Umum Kepala Daerah (pemilukada), tahun 2017, berikutnya ia terpilih sebagai Ketua PPK di Kecamatan Sanrobone, saat pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, tahun 2018. Ini merupakan sejarah baru di Kecamatan Sanrobone bahkan di Kabupaten Takalar, karena untuk pertama kalinya Ketua PPK dijabat seorang perempuan.


Pada perhelatan Pemilihan Umum (pemilu) 2019, Irmawati kembali terpilih sebagai Ketua PPK Sanrobone. Pemilu 2019 merupakan sejarah baru bagi Indonesia. Karena untuk pertama kalinya Presiden, Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, anggota DPRD Provinsi, serta anggota DPRD Kabupaten/Kota dipilih pada hari yang sama. Dalam penyelenggaraan pemilu serentak pertama itu, ia mampu menjadikan Kecamatan Sanrobone sebagai kecamatan yang hampir semua persoalan tahapan pemilunya diselesaikan dengan baik, sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tentu saja, kemampuan ini tidak lepas dari pengetahuan dan pengalaman advokasi yang dimilikinya sebagai paralegal.


Pengalamannya sebagai penyelenggara pemilu tak lepas dari keaktivannya dalam gerakan perempuan di Sulawesi Selatan, bahkan di gerakan perempuan nasional. Irmawati merupakan Sekcab (Ketua) Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Kabupaten Takalar, sejak tahun 2008 hingga sekarang. Ia merupakan pendiri dan Ketua Jaringan Perempuan Pedesaan (JPP) Nusantara, periode 2019-2021. Kepedulian dan keberpihakannya terhadap perempuan tak pernah goyah. Dia konsisten mendedikasikan dirinya untuk mendorong keterwakilan perempuan dalam penyelenggaraan pemilu dengan memberikan bimbingan teknis kepada PPS bahwa anggota KPPS, sebagai penyelenggara pemilu, harus mininal 30% keterwakilan perempuan.


Tidak hanya mendorong keterwakilan perempuan dalam penyelenggaraan pemilu, dia juga menerapkan berbagai teknis dan strategi agar partisipasi pemilih meningkat. Irmawati secara kreatif memberikan ide dan arahan agar semua TPS ditata semenarik mungkin. Kepedulian dan keberpihakannya juga ditunjunkan dengan meminta penyelenggara pemilu harus memperhatikan aksesbilitas bagi para penyandang disabilitas, lansia dan ibu hamil.


Perempuan yang biasa disapa Daeng So’na ini, memang memiliki jiwa kepemimpinan dan merupakan sosok pemimpinan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal siri’ na pacce, yang dengan empatinya itu ia mengorganisasikan tanggung jawabnya dengan penuh kasih sayang. Nilai-nilai yang dilandasi kesetaraan dan keadilan itulah yang menjadi strong point, sehingga dia berhasil dengan sangat baik sebagai penyelenggara pemilu 2019 di kecamatan Sanrobone. Bayangkan saja, proses rekapitulasi di tingkat kabupaten hanya membutuhkan waktu satu jam selesai tanpa adanya sanggahan. Itu lantaran semua hasil rekapitulasi yang disampaikan sama persis dengan data hasil rekapitulasi oleh saksi.

Irmawati selain terkenal berintegritas, dia juga aktif, penuh semangat dan tegas. Kapasitas yang dimilikinya itu terbentuk sejak dia masik kanak-kanak. Sejak kelas 4 Sekolah Dasar (SD), dia telah menjadi binaan Plan Internasional, sebuah lembaga donor yang fokus pada pemenuhan hak-hak anak. Plan Internasional Program Unit (PU) Takalar, pada tahun 1999-2000an, membentuk Dewan Anak, untuk memberikan pengalaman dan menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dan demokrasi pada kelompok-kelompok anak binaannya.


Irmawati menjadi Ketua Dewan Anak di desanya, Paddinging, kemudian dia berhasil pula menjadi Ketua Dewan Anak di Kabupaten Takalar, pada saat dia masih duduk di kelas 1 SMA. Dia juga menjadi wakil pemimpin redaksi pada media anak Buletin Paraikatte, tahun 2002, di bawah pembinaan langsung Rusdin Tompo dari LiSAN (Lembaga Investigasi Studi, Advokasi Media dan Anak). Di usia remajanya, dia juga terpilih sebagai Duta Remaja Anti Narkoba pada tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.


Dedikasinya dalam menyuarakan hak-hak anak di Takalar berlanjut. Bersama teman-teman anak binaan Plan, dia ikut mendirikan FIAT (Forum Interaksi Anak Takalar). Anggota FIAT tersebar di 15 Dewan Anak binaan Plan. Hampir seluruh pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di Kabupaten Takalar tergabung di dalamnya. Salah satu success story-nya, adalah ketika mereka berhasil membantu 700 anak memperoleh akta kelahiran gratis. Program ini merupakan cikal bakal lahirnya Peraturan Daerah Kabupaten Takalar Nomor 20 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak dan Sekolah Ramah Anak (SRA) di Takalar.


Dalam posisinya sebagai Sekcab (Ketua) Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Cabang Takalar, Irma banyak membantu Pemda Kabupaten Takalar dalam memberikan layanan publik. Salah satu di antaranya, adalah mendampingi 435 Kepala Keluarga (KK) di Desa Paddinging untuk mendapatkan bantuan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 


Dalam kesehariannya sebagai Petani Alami, Irma merupakan anggota dari Perserikatan Petani Sulawesi Selatan. Sebagai aktivis gerakan perempuan pedesaan, dia lama terlibat berjuang dalam penyelamatan lingkungan dan sumber daya alam. Tidak mengherankan jika dia memiliki networking dan massa perempuan, termasuk petani, di hampir semua provinsi di Indonesia. Di Takalar sendiri, dia memiliki basis massa yang kuat dan militan. Karena dia selalu hadir di garda terdepan memperjuangkan keadilan bagi petani dan nelayan. Itulah mengapa, dia berhasil mengadakan Kongres Perempuan Pedesaaan pertama di Indonesia di Jakarta, pada Desember 2019, yang melahirkan Jaringan Perempuan Pedesaan (JPP) Nusantara. Kongres itu, dihadiri perempuan pedesaan yang tersebar di seluruh pulau di Indonesia, dari Aceh, NTT, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. 


Irmawati dikenal konsistensi dan berdedikasi pada apa yang menjadi idealismenya, terutama dalam pemperjuangkan hak-hak perempuan, anak dan lingkungan. Makanya, ia terpilih sebagai penerima Beasiswa Bekal Pemimpin dari United in Diversity (UID) Foundation. UID merupakan lembaga yang saat ini dipimpin oleh Tantowi Yahya, mantan Duta Besar Indonesia untuk Australia. Program Beasiswa Bekal Pemimpin merupakan salah satu program UID untuk memfasilitasi para pemimpin tri-sektor guna menciptakan solusi yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berkearifan lokal. Setelah menerima Beasiswa Bekal Pemimpin, pada tahun 2020, ia terpilih sebagai 6 besar calon penerima Fellowship Program dari Ford Foundation, USA.


Irmawati beruntung pernah menimba ilmu dari tokoh-tokoh gerakan perempuan Tanah Air. Sebagai anggota KPI, dia pernah dikader langsung oleh Zohra Andi Baso, dalam diskusi-diskusi terkait masalah perempuan di Sekretariat Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulawesi Selatan. Tidak hanya pada gerakan perempuan dan kepemiluan, Irmawati juga merupakan pengurus dari lembaga adat Sanrobone Panrita. Lewat forum ini, dia banyak berjejaring dengan pemangku adat, dan tokoh agama, di antaranya dengan pemangku adat Sanrobone dan Gallarrang Tonasa.


Irmawati merupakan perempuan butta panrannuang yang telah memiliki karya dan rekam jejak hingga tingkat nasional. Dia merupakan sosok perempuan pemberani dan punya prinsip yang kuat. Dia menginspirasi perempuan dan warga, di antaranya melalui model advokasi yang dilakukan di desanya berupa pengembangan pertanian alami dan mendirikan sekolah perempuan petani alami di Kabupaten Takalar. Dari profil singkat yang diulas dalam tulisan sederhana ini, terlihat jelas komitmen, konsistensi, dediskasi dan integritas perempuan aktivis ini, yang tentu tidak perlu diragukan lagi

0 Komentar